Rumah Cimanuk


Sejak kecil hingga sekarang, arti rumah bagi saya tidak pernah berubah. Rumah adalah Mama, Daddy, dan adik saya, Andre. Itu adalah masa-masa indah sebelum saya dan Andre akhirnya menikah dan membangun keluarga kami masing-masing. Namun, perlahan waktu mengubah segalanya. Daddy pergi mendahului kami, dan tiga belas tahun kemudian, Mama menyusul. Kehilangan Mama benar-benar meninggalkan rasa sepi yang mendalam, karena bagi saya yang pada dasarnya seorang orang rumahan, mereka adalah poros hidup saya.

Kini, kehidupan membawa kami berpencar ke berbagai belahan dunia. Saya tinggal di Australia, sementara anak saya berada jauh di Amerika. Kami terpisahkan oleh samudera yang luas dan zona waktu yang berbeda. Meski begitu, bagi saya, rumah itu tidak pernah hilang. Ia tetap ada, selalu dirindukan, dan hidup di dalam hati. Saya merawat rasa rindu ini baik-baik, menjaganya seperti janji setia bahwa saya akan selalu pulang setiap tahunnya.

Mungkin benar kata orang, kadang kita memang harus pergi jauh dari rumah hanya untuk bisa merasakan betapa berharganya rasa kangen itu.

Kerinduan itulah yang menuntun kami Mei lalu. Dari negara tempat kami masing-masing tinggal, kami memutuskan untuk pulang. Momen itu terasa sangat lengkap dan istimewa. Saya, anak saya, dan kekasihnya yang cantik akhirnya bisa berkumpul dengan Andre, Adelina istrinya, serta kedua keponakan saya, Faith dan Art. Tentu juga dengan Mintje yang sudah menjadi bagian keluarga kami. Di bawah atap yang penuh kenangan, dan saya yakin di bawah hangatnya memori Mama dan Daddy yang selalu menyertai, kami kembali menyatu. Untuk sesaat, jarak ribuan kilometer yang biasa memisahkan kami rasanya menguap begitu saja digantikan tawa hangat keluarga.

Namun, hidup harus terus berjalan. Setelah momen kumpul yang singkat itu, saya harus kembali ke Australia, dan dua minggu kemudian anak saya menyusul terbang ke Amerika. Saat berpisah, kami bahkan tidak tahu kapan lagi bisa saling tatap dan bertemu.

Menjalani hidup yang saling berjauhan dengan orang-orang tercinta memang terasa getir. Namun, sejauh apa pun kami terpisah, dan sepanjang apa pun hari-hari yang harus kami lewati sebelum bisa berpelukan lagi, ada satu kedamaian yang selalu kami genggam, kami tahu pasti bahwa sejauh apa pun kami pergi, rumah akan selalu ada di sana, setia menunggu kami pulang.

Cerita di foto:
Alejandra yang energy nya banyak mengajak jalan hanya beberapa jam setelah mendarat di Indonesia, melupakan delayed perjalanan yang panjang dan melelahkan. 

Kita ke Bogor mengunjungi Alex tapi sebelumnya mampir mengisi perut di Mall Jogya yang unfortunately makanan tidak enak. 

Hujan badai sepanjang pergi dan pulang, mengerikan. Kami tiba selamat kembali ke rumah Cimanuk, menghabiskan malam pertama bersama sambil Menikmati Martabak dan Pempek.


Comments

Popular Posts