Companions


Selama tujuh hari saya menemani pasangan yang dirawat di rumah sakit, 7east west no 39. Teman sekamarnya adalah seorang pria mungil asal Sri Lanka yang selalu sendirian. Di sini, sistem perawatannya sangat luar biasa dan intens; setiap 30 menit hingga satu jam sekali perawat datang untuk memeriksa tekanan darah dan menengok pasien. Sistemnya sangat efisien karena dua perawat menangani tiga pasien secara tim. Biasanya satu mencatat di laptop dan yang lainnya memberikan tindakan atau obat, yg pasti keduanya selalu dtg mengecek.

Pasien pun tidak dibiarkan hanya berbaring di tempat tidur; mereka diharuskan untuk banyak bergerak dan jalan-jalan. Untuk mendukung hal itu, tersedia ruangan rekreasi yang nyaman dengan TV besar, berbagai permainan, hingga koleksi buku. Fasilitas makanannya pun luar biasa lengkap, mulai dari es krim, buah, puding, yogurt, hingga steak dan pasta yang bisa dipesan sendiri secara online. Namun, di balik kemandirian dan kemewahan ini, ada satu kejadian yang menyadarkan saya bahwa kehadiran pendamping tetap tidak tergantikan.

Suatu kali, pria Srilangka tersebut baru kembali dari ruang X-ray. Di tempat tidurnya memang selalu terpasang alat pemanas tubuh (forced-air warmer) dengan selang hitam besar. Saat petugas mendorong tempat tidurnya masuk melewati tempat tidur pasangan saya, selang itu tersangkut. Petugas terus mendorong tanpa sadar, sehingga selang itu menarik paksa selimut yang menempel di tubuh pasien. Saya spontan bangkit dan melepaskan selang yang menyangkut itu agar tarikannya terhenti.

Setelah petugas pergi, saya mendengar tangisan dari balik gorden. Saya dan pasangan saling berpandangan; kami ragu bertanya demi privasi, namun tangisannya makin pilu hingga terdengar nyaris berbisik, "Can you help me?"

Saya langsung bangkit dari kursi dan berkata, "Hang on, I'll get the nurse!" Di depan kamar, ada perawat yang sedang menulis di laptopnya. Saya segera menghampiri dan berkata: "Excuse me, the patient in bed 40 called you. He is in pain. Please come and look for him." Perawat itu langsung berhenti bekerja dan mengikuti saya masuk ke kamar. Dia memberikan pertolongan cukup lama di balik gorden. Saat selesai, dia menoleh ke arah saya dan berucap, "Thank you." Saya tahu dia sangat menghargai itu, karena meski mereka sangat sigap, ada momen di mana perawat sangat sibuk dengan catatan medisnya dan tidak melihat sinyal darurat dari dalam kamar.

Pagi ini, saat lima dokter dan seorang apoteker melakukan visit, saya mendengar percakapan mereka dari balik gorden. Dokter bertanya apakah ada keluarga yang akan menjaganya saat pulang nanti. Dengan suara lirih, dia menjawab bahwa orang tuanya baru akan datang dari Sri Lanka dua bulan lagi.

Mendengar itu, hati saya tercekat. Ternyata di balik fasilitas rekreasi yang lengkap dan kemudahan lainnya, dia benar-benar berjuang sendirian. Kejadian ini mempertegas bagi saya bahwa meski sistem medis di sini sangat canggih, peran pendamping tetaplah krusial. Dalam keadaan darurat, pendamping adalah penyambung informasi tercepat saat petugas sedang sibuk. Fasilitas menjamin kesembuhan fisik, tetapi kehadiran orang terdekatlah yang memberikan kekuatan mental dan rasa aman.

Comments

Popular Posts