Toko Chocolat


Pagi itu, Selasa 7 April, hujan turun membasahi jalanan. Saya menumpang Tram 67 menuju lokasi kerja baru di kawasan Glen Huntly Road, tepatnya di sebuah toko cokelat. Pesan dari Denny terngiang di kepala, mewanti-wanti agar saya bekerja dengan sangat teliti karena ini adalah pelanggan baru.

Saya tiba di lokasi pukul 09.12, delapan belas menit lebih awal dari jadwal yang ditentukan. Sambil menunggu waktu, saya berteduh sejenak menghindari rintik hujan sebelum akhirnya memutuskan untuk menyeberang menuju toko tersebut.

Saat saya mendorong pintu, bunyi kemerincing bel menyambut kedatangan saya. Toko itu tidak terlalu besar, namun estalasenya penuh deretan cokelat yang tertata rapi. Di sana, saya melihat Graham, sang pemilik, yang mengenakan pakaian putih bersih menyerupai jas laboratorium.

"Good morning,"
"I am Jackie the cleaner. Sorry, I came too early."

Saya melirik jam tangan yang menunjukkan pukul 09.20.

Graham menyambut saya dengan raut wajah yang tampak sedikit *grumpy*. Tanpa banyak bicara, ia membawa saya naik ke lantai atas yang ternyata adalah kediamannya. Suasananya cukup hangat dengan lantai kayu yang *cozy*, meski saat dia menunjukkan kamar mandi dan kamar tidurnya, saya bisa merasakan lapisan debu yang cukup tebal di sana.

Saya sempat menawarkan untuk merapikan tempat tidur, namun Graham menolak. "Tidak usah, nanti saya ganti sendiri spreinya. Cukup lap saja debu-debunya," ujarnya. Kami kemudian beralih ke ruang tamu di bagian depan yang menghadap langsung ke jalanan. Di sana terdapat tanaman dalam pot dengan beberapa daun kering yang berserakan di lantai. *All right, no problem*, batin saya.

Pekerjaan saya mulai dari kamar mandi. Saya menyikat jamur air di pintu shower,  bagian dari pekerjaan yang sangat saya sukai karena hasilnya selalu membuat saya bangga. Hampir 30 menit saya habiskan di sana untuk mengelap, mengatur ulang peralatan mandi, hingga mengepel lantainya. Setelah itu, saya berpindah ke kamar tidur dan membuka jendela lebar-lebar agar udara segar musim gugur bisa masuk menggantikan udara pengap. Hujan sudah berhenti, menyisakan angin sejuk yang menenangkan.
Meski Graham tadi melarang, saya memutuskan untuk tetap membereskan tempat tidurnya agar kamar itu terlihat jauh lebih cantik. Saya mengepel hingga ke kolong tempat tidur yang tadinya tertutup debu tebal, serta merapikan pakaian kotor yang mencuat dari keranjang. Di tengah kesibukan itu, terdengar bunyi bel dari bawah; rupanya ada pelanggan yang datang ke toko.

Saat beralih ke ruang tamu, saya melirik jam. Sudah 45 menit berlalu dan pekerjaan belum sepenuhnya rampung. Padahal, jadwal saya di sini hanya satu jam. Namun, saya sudah bertekad untuk membuat pelanggan baru ini merasa puas dan bahagia. Saya pun memvakum seluruh lantai hingga bersih mengilap. Urusan waktu, saya sudah berjanji pada Graham bahwa dia cukup membayar satu jam saja—biarlah kelebihannya menjadi urusan saya dengan Denny.

Setelah memastikan ruang tamu bersih sempurna, saya membawa vakum kembali ke gudang di bawah tangga dan mengembalikan kain pel yang berat ke halaman belakang. Di lantai bawah, Graham masih sibuk berjibaku membuat cokelat yang aromanya tercium harum ke seluruh ruangan.

"I’m done, I hope you like it. Don't worry about the time, just pay an hour to Denny," pamit saya.

Graham mengiyakan. Pekerjaan pertama saya di toko cokelat itu pun selesai dengan perasaan puas.

Comments

Popular Posts